Cobalah menganggap hidupmu sebagai Pengukur Waktu dari Gelas.
Dalam gelas bagian atas terdapat jutaan butir-butir pasir yang secara tetap dan teratur akan turun melalui leher sempit yang menghubungkan gelas bagian atas dan bagian bawah.
Baik anda maupun saya tak dapat memaksakan lebih dari satu butir pasir melewati leher gelas yang sempit itu tanpa merusakkannya.
Anda, Saya dan orang-orang lain adalah seperti Gelas Pengukur Waktu itu.
Disaat kita bangun pagi hari, Ratusan tugas telah menumpuk di depan kita yang harus kita kerjakan hari itu, apabila kita TIDAK menyelesaikan satu demi satu dan menjalankan tugas itu dengan tekun dan teratur seperti butir-butir pasir yang melewati leher gelas sempit itu, berarti kita telah membentuk suatu jalan untuk menghancurkan fisik dan mental kita sendiri.
SATU BUTIR PASIR SETIAP WAKTU
SATU PEKERJAAN SETIAP WAKTU
Masa lalu telah lewat, hari esok belum datang, kita tidak mungkin hidup di dua masa ini walau sekejap pun, memaksakan hal tersebut hanya akan menghancurkan jiwa raga kita.
Maka marilah kita berpuas diri dengan hidup di dalam satu-satunya waktu dimana kita bisa hidup : Dari Saat Ini hingga Menjelang Tidur.
Setiap orang akan sanggup memikul bebannya, betapapun beratnya, sampai malam tiba.
Setiap orang dapat mengerjakan tugasnya betapapun beratnya, untuk Satu Hari.
Setiap orang akan dapat hidup dengan manis, dengan sabar, penuh kasih sayang dan tulus sampai saat matahari terbenam, dan itulah seluruh arti dari kehidupan.
SETIAP HARI ADALAH HIDUP BARU BAGI MEREKA YANG BIJAKSANA
NIKMATILAH HARI INI, GENGGAMLAH HARI INI.
Sabtu, 17 Mei 2008
Hiduplah Pada Hari ini (bagian 2)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar